Validasi data melalui metode konsisten terhadap pola adalah pendekatan yang memeriksa apakah nilai, format, dan perilaku data “selaras” dengan pola yang sudah disepakati. Bukan sekadar mengecek kosong atau tidak, metode ini menilai konsistensi: apakah nomor telepon selalu mengikuti struktur tertentu, apakah kode produk selalu punya awalan khusus, atau apakah urutan tanggal masuk akal dibanding kolom lain. Hasilnya, kualitas data meningkat karena kesalahan halus—yang sering lolos dari validasi biasa—bisa terdeteksi sejak awal.
Cek format biasa hanya memastikan data terlihat benar di permukaan, misalnya email mengandung “@”. Metode konsisten terhadap pola bergerak lebih jauh: domain email harus sesuai kebijakan perusahaan, penulisan nama mengikuti kaidah huruf kapital, dan isian alamat tidak berisi karakter acak. Pola juga dapat memuat konteks, seperti “kode cabang + tahun + nomor urut”, sehingga data yang tampak valid namun salah konteks akan tertangkap.
Skema yang tidak seperti biasanya dapat dibuat dengan pola “Tiga Lapis, Satu Arah”: Lapis Bentuk, Lapis Kebiasaan, dan Lapis Keterkaitan. Lapis Bentuk memeriksa struktur paling dasar (panjang, karakter, delimiter). Lapis Kebiasaan menilai konsistensi dengan kebiasaan input historis (misalnya 95% data memakai tanda hubung, maka entri tanpa tanda hubung ditandai). Lapis Keterkaitan memeriksa kecocokan antar kolom, misalnya kode pos harus cocok dengan kota, atau tanggal selesai tidak boleh lebih awal dari tanggal mulai. Aliran satu arah berarti setiap lapis hanya menerima data yang sudah lolos lapis sebelumnya agar proses lebih cepat dan mudah diaudit.
Pola terbaik jarang lahir dari sekali rapat. Ambil sampel data yang dianggap “benar”, lalu temukan ciri yang paling sering muncul. Contohnya, ID pelanggan mungkin selalu diawali “CST”, diikuti 6 digit. Dari sini dibuat aturan: prefix wajib, panjang total tetap, dan digit tidak boleh semuanya nol. Untuk data teks seperti nama, pola bisa berupa larangan karakter tertentu, minimal dua kata untuk nama lengkap, atau normalisasi spasi ganda. Fokusnya bukan membuat aturan sebanyak-banyaknya, melainkan aturan yang mengurangi variasi liar tanpa mematikan variasi yang wajar.
Metode konsisten terhadap pola memakai indikator yang bisa dihitung. Misalnya skor konsistensi: setiap pelanggaran aturan mengurangi skor, lalu ambang batas menentukan lulus atau perlu ditinjau. Teknik lain adalah whitelist pola (yang diperbolehkan) dan blacklist pola (yang dilarang), seperti melarang “000000” pada nomor dokumen atau melarang tanggal “31/02”. Untuk data numerik, konsistensi dapat diuji lewat rentang realistis (umur 0–120), satuan yang seragam, dan pembulatan yang konsisten (dua digit desimal untuk harga). Dengan cara ini, validasi terasa objektif dan bisa dipertanggungjawabkan.
Di e-commerce, pola konsisten membantu menahan produk duplikat: judul, SKU, dan kategori harus selaras, sehingga item yang berbeda nama namun memiliki SKU mirip bisa terdeteksi. Di kesehatan, pola memastikan format rekam medis seragam, serta menghindari kesalahan fatal seperti dosis yang meloncat jauh dari kebiasaan. Di keuangan, validasi pola mendeteksi transaksi yang “terlihat wajar” namun tidak konsisten dengan jam operasional, cabang, atau pola nominal historis.
Validasi pola idealnya ditempatkan di tiga titik. Pertama, sebelum data disimpan dari formulir, agar kesalahan tidak masuk. Kedua, saat impor massal dari file CSV atau API, karena sumber eksternal sering memiliki variasi format. Ketiga, setelah perubahan skema atau aturan bisnis, karena pola lama bisa tidak relevan. Catatan pentingnya: setiap penolakan sebaiknya memberi pesan yang jelas, misalnya “Kode harus CST + 6 digit”, bukan “Input tidak valid”.
Ancaman paling umum adalah variasi penulisan, perbedaan lokal (tanggal DD/MM vs MM/DD), dan “kreativitas” pengguna saat mengisi kolom bebas. Solusinya adalah normalisasi: trim spasi, samakan kapitalisasi, ubah separator yang beragam menjadi satu format, dan sediakan pilihan terstruktur seperti dropdown untuk nilai yang berulang. Untuk mencegah pola terlalu kaku, sediakan jalur pengecualian yang tercatat, misalnya data “khusus” yang perlu persetujuan admin agar tetap konsisten namun tidak menghambat operasional.