Di sela suara kepingan mahjong yang saling beradu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: waktu. Bukan sekadar jam di dinding atau durasi satu ronde, melainkan rasa waktu yang melebar, menyempit, dan kadang seperti berhenti total ketika pemain menunggu tile yang tepat. Refleksi pemain tentang waktu bermain mahjong biasanya muncul setelah permainan selesai—saat tubuh pulang, tetapi pikiran masih tertinggal di meja.
Banyak pemain mengira mahjong hanya perkara strategi dan keberuntungan. Namun, begitu permainan berjalan, waktu diam-diam menjadi guru yang mengatur ritme keputusan. Ada momen ketika pemain merasa harus cepat, ada pula saat jeda panjang terasa justru menolong. Refleksi ini membuat pemain menyadari bahwa tempo bermain mahjong tidak pernah netral; ia memengaruhi cara membaca lawan, menakar risiko, dan mengelola emosi.
Dalam refleksi pemain, dua jam bermain mahjong bisa terasa seperti dua puluh menit, atau sebaliknya. Saat tangan “panas” dan pola tile seolah mengalir, waktu menjadi ringan. Tetapi ketika tile yang dinanti tak kunjung muncul, satu putaran terasa panjang dan melelahkan. Perbedaan durasi nyata dan durasi yang terasa ini sering menjadi cermin kondisi mental pemain: fokus membuat waktu melesat, sementara ragu membuatnya seret.
Ada pemain yang setelah beberapa sesi baru menyadari kebiasaan kecil: napas menahan saat mengambil tile, lalu mengembus ketika membuang. Kebiasaan ini membentuk ritme, dan ritme membentuk waktu. Semakin stabil ritme tubuh, semakin tenang keputusan. Di titik ini, mahjong bukan hanya permainan, melainkan latihan memelihara tempo agar tidak terseret situasi meja.
Menunggu adalah kata yang paling sering muncul dalam refleksi pemain tentang waktu bermain mahjong. Menunggu tile yang tepat, menunggu lawan membuka tangan, menunggu kesempatan mengunci pola. Menunggu yang baik bukan pasif, melainkan aktif: pemain memantau buangan, menghitung kemungkinan, dan menilai apakah harus berubah rencana. Saat pemain mampu memaknai menunggu, ia tidak lagi merasa “membuang waktu”, justru sedang mengumpulkan informasi.
Keputusan yang terlalu cepat bisa lahir dari dorongan ingin segera selesai, terutama ketika suasana meja menekan. Sebaliknya, keputusan terlalu lambat kadang muncul karena takut salah. Dalam refleksi yang jujur, pemain sering menemukan pola: kesalahan besar jarang terjadi saat benar-benar fokus, melainkan saat terburu-buru atau terlalu ragu. Mahjong lalu menjadi ruang latihan untuk menjaga jarak dari impuls.
Aspek waktu bermain mahjong yang paling personal adalah keputusan berhenti. Ada pemain yang terus menambah satu ronde lagi karena merasa belum “balik modal”, ada pula yang bertahan demi menjaga suasana pertemanan. Refleksi di sini menyinggung batas: kapan permainan masih menyenangkan, dan kapan sudah berubah jadi beban. Menentukan kapan berhenti sering menjadi tanda kedewasaan bermain, karena tidak semua momen perlu dimenangkan.
Beberapa pemain memakai skema refleksi yang tidak biasa setelah bermain mahjong: 3L. Pertama, Lacak—catat momen ketika waktu terasa melesat atau melambat, lalu hubungkan dengan keputusan yang diambil. Kedua, Lepas—identifikasi satu kejadian yang mengganggu (misalnya menunggu tile tertentu terlalu lama) dan lepaskan dengan menerima bahwa tidak semua hal bisa dikontrol. Ketiga, Lanjut—tetapkan satu kebiasaan kecil untuk sesi berikutnya, seperti memberi jeda dua detik sebelum membuang tile agar keputusan tidak impulsif.
Refleksi pemain tentang waktu bermain mahjong juga sering menyentuh sisi sosial. Banyak yang mengingat “malam itu” bukan dari hasil menang-kalah, melainkan dari tawa, cerita, dan kebiasaan yang berulang. Waktu bermain mahjong akhirnya berfungsi seperti kalender kecil—penanda pertemuan yang konsisten. Ketika pemain memahami ini, permainan tidak lagi semata mengejar hasil, tetapi menjaga kualitas momen agar waktu yang dihabiskan terasa layak.